Oleh: Joemardi poetra
Cafetaria Kopma, siapa yang tidak mengenalnya. sebuah tempat dimana mahasiswa-siswi UIN melakukan berbagai aktivitas, tak terkecuali diskusi terbatas dengan beberapa teman dengan ditemani oleh beberapa cangkir kopi, atau sekedar berhenti sejenak sembari menunggu waktu masuk kuliah tiba.
Tapi kini, tempat itu telah tiada, entah kenapa dan bagaimana Kopma merealisasikan kembali cafetaria atau memang ada ‘pemain baru’ di kampus putih yang mengambil alih salah satu sektor ekonomi yang digalak oleh kopma selama ini. Tapi yang jelas, ditutupnya Capetaria tersebut telah mendatangkan kabar buruk bagi beberapa para pekerja yang selama ini sangat bergantung pada profesi tersebut.
Dialah Kusminah, salah seorang pekerja cafetaria yang terpaksa diberhentikan sementara oleh Kopma, dikarenakan capetaria tutup. Kusminah, namanya memang tak sefamiliar masakannya yang biasa disantap kebanyakan mahasiswa di cafetaria kopma dulu. Ditangannya, cafetaria telah menjadi primadona di kampus uin, bahkan saat ini ketika keberadaan kafetari Kopma sudah tak ada lagi, kenangan akan kesuksesannya masih tergambar jelas di wajahnya.
“Perempuan yang sudah dikenal baik bagi teman-teman kopma terpaksa diberhentikan sementara, lantaran setelah pemindahan gendung Kopma, capetaria tidak dibuka lagi”, tutur Burliyan, Kabid Umum Kopma UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia menambahkan, tutupnya capetaria memang menjadi persoalan baru yang harus kami perjuangkan pada pihak rektorat sampai saat ini, namun juga belum mendapatkan solusi yang tepat. “Sebenarnya, tempatnya disediakan di parkiran terpadu, akan tetapi kurang strategis”, lanjutnya.
Dengan melewati lorong kecil, tepatnya ngentak sapen gang gading, tim SliliT pun mencoba menemui di rumahnya yang tak jauh dari kampus putih. Waktu sampai, terlihat begitu ramai oleh beberapa bocah yang lagi asyik bermain, tak pelak beberapa ibu-ibu pun menghiasi halaman rumah yang bersih dari sampah kotoran. Perempuan paruh baya ini terlihat ramah ketika nerima kedatangan tim SliliT Arena yang lagi bertamu.
Obrolan hangat pun terjadi, terlebih karena persoalan yang lagi dihadapi membuat dada begitu sesak. Pasalnya, sekitar akhir bulan November 2007, perempuan kelahiran Yogyakarta tahun 1959 ini diberhentikan dari pekerjaan biasanya sebagai koki capetaria KOPMA UIN. “setelah capetaria tutup aku di pensiun dinikan,” tambahnya.
Disamping itu, dua pekerja lainnya juga mengalami hal yang sama. “namun bedanya, ibu Darmi sedang di rumah kan dan Mas Hari dipindah alihkan ke cleaning servis, yang pada awalnya bekerja sebagai pegawai capetari seperti dirinya,” bebernya.
Minah, begiu ia akrab dipanggil oleh tetangga menuturkan, sudah satu bulan lebih tidak lagi menjalani rutinitas seperti biasa, berangkat pukul 07.00 pagi dan memasak nasi sampai pukul 14.30. “bahkan tak jarang aku harus ngelembur” kenangnya. baginya, profesi sebagai koki cpetaria Kopma sudah dimulai dari sebelas tahun sebelumnya.
Selama ini, bagi Minah, bekerja di Kopma, merupakan satu-satunya pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarganya. “apalagi setelah tidak ada pekerjaan tetap, sampai saat ini aku belum bekerja, kecuali ngrurusin kakakku yang sudah lansia, itu pun juga membutuhkan dana,” kilahnya.
Selama bekerja di capetaria, gaji sejumlah 250 per-bulan dirasa cukup untuk kehidupan sehari-hari, namun setelah gempa yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 silam, gaji pun tidak menentu. “Saya pun paham, kerena memang situasi waktu itu menghendaki semacam itu, yang penting aku masih bisa bekerja,” tuturnya sembari mengenang.
Dia manambahkan, sebenarnya, masa kontraknya bekerja di capetaria Kopma masih tiga tahun lagi. “akan tetapi karena pertimbangan bahwa capetaria tutup, saya berhenti, dan mendapatkan uang tunjangan sebesar 1500.000 dan katanya kopma mau ngasih lagi dana jamsostek, tapi nanti setelah 6 bulan, rencananya uang itu akan saya jadikan modal untuk dagang kecil kecilan di kampus tapi kalau UIN mengijinkan, kalau diusir saya tidak tahu,” ungkapnya sambil tersenyum
Dia hanya bisa berharap, Kopma atau pihak kampus menyediakan peluang kerja, karena mengingat kehidupan saat ini tidak bisa jalan, kalau tidak punya modal. “Sempat terpikirkan, kalau ada rencana mau jualan kecil-kecilan di dekat kampus, namun karena belum punya modal yang mencukupi, niat itu pun tak kunjung ada,” kilahnya.
Dibalik usia yang mulai renta, ia pun mencoba untuk tetap berusaha semangat menjalani hidup, walaupun merasa kebingungan dimana mencari uang lagi.[]