Oleh: Mia.W. Asghar
Cafetaria KOPMA yang telah menjadi primadona di UIN terancam gulung tikar. Darma Wanita disebut sebut sebagai ‘pemain baru’yang akan menguasai sector ekonomi kampus dengan melakukan monopoli pengelolaan mayoritas kantin universitas.
Terasa hambar jika kita berbicara Kopma tanpa mengingat sebuah tempat nongkrongnya para mahasiswa-siswi yang ada di UIN. Tempat nongkrong yang telah menjadi primadona di sector ekonomi kampus, kini tidak jelas keberadaanya
Burlian Sanjaya ketua kopma mengaku pihaknya telah berusaha melakukan berbagai cara untuk menghidupkan kembali cafetaria tersebut, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan apaun dari pihak rektorat ”kita sudah melakukan rapat beberapa kali dengan rektorat, tapi sampai sekarang keluhan kita tidak ditanggapi sama sekali” tuturnya pada tim slilit. Bahkan untuk sekedar mengusahakan tempat parkiran terpadu sebagai altenatif Cafetaria, rektorat juga tidak menaggapinya. Menurut kabar yang beredar, tambah Burlian, di tutupnya cafetari kopma karena adanya ‘pemain baru’ yang berusaha menguasi kantin di wilayah UIN.
Bu Nurhayati selaku ketua dan penanggung jawab kopma mengatakan ”kita tidak berusaha untuk menjadi pesaing kopma, memang bulan-bulan lalu kita berusaha untuk menghandle proyek konsumsi dan makan para pegawai serta pekerja kuli bangunan, namun ditolak oleh pihak Adikarya. Padahal ini tujuanya sosial agar kesehatan dan makan para pekerja bisa terjamin. Para pegawai kan hanya digaji 15 ribu perhari untuk makan jika diluar habis 10 ribu, sedangkan disini hanya dengan uang 7500 saja sudah kenyang, terjamin lagi”.
“Laku atau tidak itu kan ditangan Tuhan. Lagipula saat ini setahu saya, lanjut Bu Nurhayati, Kopma kantinnya tidak ada, kita kan bayar juga. Yang jadi masalah kalau kopma bayar, sedang kita gratis. Namun ketetapan kebijakanya saat ini sedang diproses, sehingga belum ada tariff yang pasti. inikan bagian dari kebijakan BLU (red- badan layan umum). persaingan dalam bisnis itukan biasa, lagi pula kantin juga belum tentu bisa melayani sepuluh ribu orang yang ada di UIN”.
Bu Nurhayati mengaku pihaknya tidak mempunyai tujuan untuk memonopoli Kantin Kampus, tapi hanya berusaha untuk memaksimalisasikan program kerja Darma Wanita dalam sector ekonomi dan kantin sebagai bentuk realisasinya. Nantinya keuntungan hasil penjualan itu di alokasikan juga untuk menunjang sector pendidikan dan sector social. Unbtuk bidang pendidikan perhatian diberikan, khususnya pada taman kanak-kanak dan PAUD ( pedidikan anak usia dani). Sedangkan untuk sektor sosial Darma Wanita memberikan perhatian pada kesejahteraan pegawai honorer.
Yudy, salah satu pedangang asongan diwilayah kampus mengaku dirinya tidak setuju terhadap monopoli kantin tersebut. Walaupun keberadaan kantin belum begitu berpengaruh terhadap siklus jualannya sendiri, tapi ia menyayangkan standar harga yang ditetapkan kantin begitu mahal. ”saya aja kemarin waktu amkan dikantin, habis banyak. padahal Cuma sama gorengan dan sayur. Tidak aneh jika banyak mahsiswa yang belingsatan lho(red-kebingungan)”
Hal tersebut juga diamini Erwin, salah seorang mahasiswa yang di temui di cafee Darma Wanita. Ia mengaku harga yang dipatok kantin terlalu mahal. ”seharusnya standar harga mahasiswa dong, apalagi kantin kan masih promosi, kok udah mahal”keluhnya
Tapi, anggapan harga yang terlalu tinggi tersebut dibantah oleh Bu Nurhayati, “Saya sudah melakukan analisis harga makanan diwilayah sekitar UIN, sama kok. misalnya makan dengan lele dan sayur kita patok harga 3500-4000,-, Teh dan Jeruk 1000,- sama thoh. Bedanya disini kami mengedepanan higienisitas dan maksimalisasi bumbu sehingga makanan tidak asal asalan”.
Setiap persoalan yang berkaitan dengan perut selalu saja menjadi konflik tanpa ujung. mungkinkah, tempat yang menjadi ‘pokok’ dari permasalahan ini atau esensi dibaliknya yang nantinya akan menjadi refleksi, akan begitu berhargakah arti sebuah makanan.