*oleh: shelly fitriyahh
Raut wajahku membiru. Ini surat pertamanya. Datang tanpa aku duga. Entah harus berperasaan seperti apa. Begitu mendadak ketika semua telah berakhir dan kututup.
Buat bintang hatiku
Kinanti
Kin…
Semburat awan senja masih menyapu mata, Kin. Namun tanganku menuntunku menemuimu dalam kata. Surat ini bukanlah surat pertama yang ku tulis karena ketidak hadiranmu. Ini surat keseratus, keseribu. Entahlah. Namun rinduku padamu tak terperi lagi. Hingga kepongahanku tak muncul lagi. Saking bekunya hatiku.
Taukah kowe, Kin. Aku telah sukses mendaki langit. Memetik bintang untukmu. Menepati janji, yang terlontar di atas gubuk tengah sawah kita.
Kowe masih ingat kan , Kin. Aku menceritaimu sebuah kidung cinta. Walaupun itu hanya bualan, tapi sungguh semua datang dari inginku yang menggebu. Aku mendambamu, Kin. Di tiap detik langkahku.
Suatu saat aku akan datang menjemputmu, sayang!
Kekasihmu
Bowo
Sedetik kemudian, semuanya tak bisa kukendalikan lagi. Sedu sedanku membabi buta. Dia masih mengingatku. Dia masih mendambaku.
“Begitu juga aku, Wo.”
**
“Kin, kowe semalam ke mana. Aku kangen Kin!”
Tak ada yang terucap dari bibirku. Aku memang telah mengkhianatimu. Ini niatku, Kang. Bukan muak yang ada. Hanya penyesalan yang tergambar jelas. Kenapa aku dulu menerima pinanganmu, Kang. Meninggalkan kekasih yang sebenarnya. Dan pura-pura tersenyum denganmu. Padahal yang ku berikan hanya kehangatan malam. Tanpa aku bumbui kidung cinta. Dingin tak mengalirkan gejolak. Karena aku yang tak di sini untukmu.
“Ditakoni, kok malah nglamun! Kowe di mana? Aku isih bojomu to, Kin?”
Dia memulai lagi. Cuaca sebentar lagi pasti gelap. Dan aku. Hanya bisa menangis di pojok emperan rumah tanpa busana. Dia tak seperti Bowoku. Bowoku seorang pengasih. Kalau dulu aku tak segoblok ini, aku pasti telah bersanding dengan Bowo. Lurah itu telah memfitnah Bowoku. Aku percaya. Aku cemburu. Dan aku lepaskan Bowo dengan makian.
“Dalem tidur di kamar simbok, Kang!”
Tak usah di bayangkan lagi. Dia mengumpat. Menyergapku seperti binatang. Aku tak ubahnya barangnya yang bisa dipakai kapan saja. Dan benar memang adanya, aku di pojok emperan ini lagi. Tanpa busana dan menggigil kedinginan. Ah… ini kesempatanku, bisikku dalam hati. Surat Bowoku harus aku balas.
Bila awan senja menyapu mata karena keindahan. Tidak buatku Wo. Kini aku hanya bersanding dengan awan hitam. Tak tahu kapan awan ini akan bergerak. Terasa perih mataku melihatnya tiap hari.
Kau bilang dalam suratmu kemarin, kau sudah berhasil memetik bintang? Benarkah itu, Wo? Kalau benar adanya, aku turut senang. Tapi jangan bilang itu untuk aku. Dalam kebutaanmu kau tak akan pernah melihat. Aku wis rusak. Aku bukan Kinan yang dulu. Kinan kekasihmu.
Lelehan airmataku mengiringi tanganku menggores kata demi kata, di kertas lusuh yang sedari pagi aku siapkan di bawah dipan kayu, di salah satu sudut emper. Tak lama kemudian, ku dengar suara desahan nafas simbok memburu. Dia mengulanginya lagi. Setelah menyiksaku, dapat ku pastikan Kang Mardi akan mengangkangi simbok. Dulu simbok terkenal sebagai ledhek di kampungku. Jadi tak heran jika badannya sampai kini masih terlihat singset. Dan Kang Mardi menginginkannya, setelah hari-harinya sepi karenaku.
Pagi tak lama lagi menyapa. Ku seret kakiku menuju pasar. Seperti kebiasaan sebelumnya. Setiap Kang Mardi datang ke rumah, aku harus menghidanginya makanan yang lezat. Suami harus diajeni itu pesan bapak sebelum dia mati. Ah, bapak kenapa kau dulu menjualku pada lurah cabul ini. Menyakitiku, padahal mulutmu mengatakan sayang padaku. Andai kau tak mlarat, aku pasti menjadi istri Bowo saat ini.
“Kin, kowe arep tuku opo?”
Suara mbok Par rupanya. Aku benci dia. Dulu saat Kang Mardi memfitnah Bowo, dia salah satu orang yang ikut andil. Memang bibirnya yang lincip itu dapat kupastikan lebih tajam dari lading.
“Tuku janganan, Mbok!”
Seperti kata Bowo, wong Jowo iku akeh pekewuhe. Tak akan mungkin aku maki dia walau dalam hati ingin membunuhnya.
“Kin, Kinan!”
“Oh, Salim. Ada apa, kok kamu lari koyo di uber anjing.”
“Bowo, Kin. Bowo mulih. Bowo pulang bawa mobil. Bowo pulang cari kowe!”
Pagi ini beda, surat Bowo yang ku tulis semalam. Sudahkah sampai? Perasaanku tak karuan, aku malu. Aku senang. Tapi aku juga benci. Tanpa sesuatupun di tangan, ku putar langkah kakiku dan pulang.
“Mbok!”
Belum sampai kakiku menginjak rumah. Tak terkendali mulutku berteriak.
“Mbok, percoyo ora kang Bowo mulih!” suaraku begitu parau dan tercekik. Ini bukan mimpi kan, Gusti. Aku ingin sekali menatapnya, meratap dan berbagi semua. Tak akan ku sia-siakan waktuku. Begitu lama aku menunggu untuk minta maaf, begitu lama aku menanti untuk sekedar bercanda.
“Opo ora salah krungu, Kin. Kowe denger dari sopo?”
“Ning pasar mbok, aku denger dari Salim di pasar tadi. Dia bilang Bowo pulang untuk aku.”
Aku dari dulu yakin Bowo akan datang kembali untukku. Hanya dia lelaki di dunia ini yang sempurna. Memaafkanku ketika kusakiti, kembali memelukku setelah ku lempar. Dan hari ini aku mulai berdandan lagi. Tak akan ku kecewakan dia, Kang Bowo harus melihatku menarik seperti saat dia kutinggalkan.
“Nduk, apa yang kamu lakukukan? Kowe salah nduk, kowe iki wis dadi bojone Mardi. Kowe ora ijen maneh, eling ora ijen maneh.”
“Ora salah mbok, iki bener. Apa yang salah? Dari dulu aku nggak pernah menganggap ini salah. Begitu juga saat Bapak menjualku, tak ada yang salah. Apalagi saat melihatku sendiri, dengan kasarnya menidurinya, aku juga tak menganggapnya salah. Ini benar semua. Dan sudah suratan Gusti Allah.”
Sedetik kemudian dengan langkah bergegas aku telah sampai di hadapan Kang Mardi. Semua harus kuakhiri. Aku yakin dia tak merasa keberatan kalau saat ini aku minta cerai darinya. Mencari penggantiku, ku kira sangat mudah. Hanya dengan menjebak orang-orang mlarat yang punya anak perawan cantik dia dengan mudahnya bisa mendapatkan istri. Tak bisa dihitung lagi berapa orang perawan yang dia jebak.
“Karepmu opo Kin? Opo kowe wis lali, utange bapakmu belum lunas walaupun kamu tak kawini!”
Nada bicaranya yang keras dapat kupastikan dia marah besar. Tapi tak apalah, ini sudah menjadi tekadku. Apalagi uang hasil tabunganku dari sisa uang belanja sudah cukup untuk bertahan hidup dua bulan. Untuk tempat tinggal tak menjadi soal. Rumah dan tanah ini telah menjadi hakku. Walaupun beristri banyak Kang Mardi cukup adil untuk memberi tanah dan rumah pada masing-masing istrinya.
“Ini sudah menjadi tekad saya Kang. Bukannya istri muda Kang Mardi masih banyak, tak mungkin Kang Mardi akan kesepian. Lagi pula kepergian dalem tak memberikan pengaruh apa-apa. Saya ingin hidup di kota, saya ingin maju.”
Alasan ini adalah alasan yang paling tepat. Pergi ke kota, ingin mengubah nasib. Kurasa dia tak akan curiga dengan apapun dibalik caruk maruk hatiku karena memperjuangkan cintaku. Aku tahu dia sungguh berat melepaskanku. Disamping aku istri termudanya, karena akulah dia menemukan fitrah manusiaanya yakni mencintai. Tak pernah dia menyakitiku ketika aku malas melayaninya, kecuali mengeluarkakanku dan mendiamiku berhari-hari.
**
“Benar Kin, kamu akan menyusul Bowo?”
“Iya mbok, tekadku sudah bulat. Sebelum berangkat kemarin Kang Bowo menitipkan surat yang intinya menyuruhku menyusulnya ke Jakarta. Dia juga menitipkan beberapa lembar uang untuk ongkos. Dia masih mencintaiku mbok.”
“Kalau dia mencintaimu, mengapa dia tak menyempatkan diri menemuimu?”
“Ibu ini gimana. Yo ora mungkin dia menemuiku, aku wingi kan masih menjadi bojone Kang Mardi. Itu buktinya kalau dia orang baik mbok, nggak bejat koyo Kang Mardi. Nggak tahu sopan santun dan toto Kromo.
Kujelaskan panjang lebar tekadku pada simbok. Sebenarnya aku juga nggak tega meninggalkan simbok sendirian. Walaupun belum terlalu tua, pastilah dia akan merasa kesepian. Sendiri dengan rumah seluas ini. Tapi aku cukup senang Kang Mardi tak meminta rumah ini. Dengan legowo dia memberikannya pada kami. Tapi ini sudah wajar mengingat berapa banyak kebahagiaan yang dia rampas dariku dan simbok. Betapa banyak dia menabur siksaan padaku.
**
Udara Jakarta rupanya berbeda jauh dengan rumah. Panas dan lengket. Sesak bila dihirup. “Kalau bukan demi Kang Bowo aku tak akan pernah ke sini”, bisikku dalam hati. Satu jam lebih aku menunggu kedatangan mobil jemputan dari Kang Bowo. Dalam suratnya sebelum balik ke Jakarta dia telah mengatur semuanya. Tanggal kepergianku, hari maupun jamnya. Bahkan Bus yang aku tumpangi dia yang mesan. Kang Bowo benar-benar menginginkan aku kembali ke pelukannya dengan sempurna.
“Mbak Kinanti?” seorang tua menepuk bahuku.
“Iya pak. Bapak suruhannya Kang Bowo?” tanyaku setengah gembira.
“Saya Wakijo, Sopir pribadi tuan. Mari Mbak!”
Oh senengnya hatiku, sebentar lagi aku akan ketemu dengannya. Entah apa yang akan kulakukan nantinya. Ini benar-benar membuatku edan. Tak ada yang kunikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Semua tertutup wajah Kang Bowo. Detak jantungkupun kurasai makin cepat saja, seakan ingin lepas dan lari menemui jantung Bowo.
“Udah sampai Mbak!”
Suara Wakijo membuyarkan lamunanku. Kutatap rumah begitu besar dihadapanku. Dengan dinding bercat putih bersih mengingatkanku pada rumah-rumah di sinetron TV yang kulihat di kelurahan. ”Ini bukan mimpi Kinan”, cubitku meyakinkan.
“Mari masuk Mbak!”
“Iya pak.”
Lagi-lagi suara Wakijo membuyarkan lamunanku. Semenit kemudian aku sudah berada dalam rumah mewah itu. Calon rumahku. Bayang-bayangan wajah kang Bowo berkelebat. Setelah sekian tahun tak bertemu, bagaimana wajahnya sekarang? Hingga Tuhan berbaik hati mempertemukan aku dalam mimpi soreku.
“Non, bentar lagi Tuan pulang. Apa non sudah siap?” seorang wanita setengah baya memberitahuku dua menit yang lalu.
“ Tuan Bowo kan mbok?” aku menekankan sekali lagi.
“Iya Non, ini rumah Tuan Bowo. Tunggu saja sebentar lagi, dia pasti datang.”
Tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan rumah ini. Tak kulihat satupun foto Bowo, tak kulihat satupun barang-barang Bowo. Sepertinya Bowo lebih suka memajang foto orang lain. Dan gambar-gambar orang lain itu jelas ku mengenalnya. Seorang Menteri yang pernah hadir di desaku. Memberi sambutan untuk tidak membabat hutan membabi buta dan namanya……??
**
Benar adanya malam ini aku telah tidur dengan Bowo. Dengan raga, hati dan rasa yang berbeda…!!!
Jogja, 15-11-07
02.37 am